Tiga Bulan BPNT Tidak Disalurkan e-Warong Pagar Bukit Diduga Tahan Uang 63 KPM

PAGAR BUKIT tirasnusantara.com – Puluhan warga miskin di wilayah Pekon Pagar Bukit Kecamatan Bangkunat Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung keluhkan keterlambatan menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tahun 2020.

Bantuan seharusnya diterima Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada setiap bulan melalui agen/e-Warong yang kebutuhannya dipasok supplier. Namun hingga akhir bulan Juni, bantuan yang ditunggu itu baru sampai ke tangan warga.

Ketua Divisi Advokasi FPII Setwil Provinsi Lampung Yahman Efendi, menyebut, penyebab puluhan warga belum menerima bantuan tersebut tidak lain karena Supplier untuk wilayah setempat belum juga memasok kebutuhan KPM ke sejumlah agen/e-Warong.

Dengan kejadian demikian, maka yang menjadi korban adalah KPM, padahal ditengah pandemi kovid-19 ini masyarakat miskin menjadi prioritas utama, yang tidak layak menerima saja kadang mendapatkan bantuan, tapi kenapa ini yang sudah jelas layak malah diperlambat, ini menjadi sebuah persoalan menarik untuk diinvestigasi “Tegasnya.

Agen/e-Warong Pekon Pagar Bukit, Nuryanto, kepada team tirasnusantara.com (29/6), menjelaskan terkait keterlambatan tersebut.

“Keterlambatannya karena perubahan sistem dalam kartu KPM, yang semula PKH dan BPNT dipisah, dan saat ini sudah digabung menjadi satu kartu, dari sebelumnya BPNT menjadi Program Sembako di tahun 2020.

Sehingga dari 372 KPM yang ada di Pekon Pagar Bukit terdapat 63 KPM yang mengalami keterlambatan pencairannya dari bulan April – Juni 2020.

Dijelaskan Nur, perubahan juga terjadi pada besaran nominal yang diterima setiap keluarga penerima manfaat (KPM) dari Rp.110.000,- menjadi Rp. 200.000,- dalam setiap bulannya.

“Besaran uang nya saat ini menjadi Rp. 200.000,- dalam setiap bulannya, dengan rincian yang diterima berupa 15kg beras, 1kg kacang hijau, 12 butir telur, dan sayuran seharga Rp. 3.000,-. Dan alhamdulillah hari ini (29/6) semua KPM sudah bisa menerima, “Kilahnya.

Ditempat terpisah Nazwirman, ST., M.Si selaku masyarakat peduli rakyat miskin mengatakan bahwa duit KPM itu tidak boleh seenak Supplier saja menukar dengan barang, hendaknya KPM itu ditanya dulu apa saja keperluannya.

Sehingga KPM dalam menerima sembako dan lainnya itu sesuai dengan kebutuhan, bukan hanya sekedar beras murah, telor dikit, kacang hijau, dan supermi, coba janganlah merauf keuntungan yang besar diatas penderitaan masyarakat miskin, itukan uangnya sebesar Rp. 200.000,- bukan kalau sedikit, Pintanya. (Yahman/Roso/Tubi/team).