Oknum Istri Aparatur Pekon dan TKSK Bangkunat Diduga Intimidasi KPM

PESISIR BARAT tirasnusantara.com – Distribusi Program Pemerintah Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau yang disebut Program Pangan di Pekon Pagar Bukit Kecamatan Bangkunat Kabupaten Pesisir Barat saat ini menuai Polemik.

Hal itu mencuat ketika pelaksanaan pembagian sembako dilakukan tanpa mempertimbangkan Pedoman Umum (Pedum) yang berlaku. Bahkan ada KPM yang sampai tiga bulan tidak menerima dengan berbagai alasan oleh e-Warong dan TKSK.

Dugaan pelanggaran dalam pelaksanaan penyaluran program pangan tersebut diduga dilakukan oleh ejen/e-Warong dan TKSK Kecamatan setempat.

“Teknisnya diduga ejen/e-Warong atas instruksi TKSK memerintahkan agar KPM memberikan kartunya untuk digesek oleh e-Warong, setelah itu baru kemudian akan diorderkan sembako kepada Supplier, ungkap “S” salah satu KPM Pekon Pagar Bukit kepada team tirasnusantara.com (30/6).

Tak hanya itu, KPM diduga di intimidasi oleh salah satu istri oknum aparatur pemerintahan pekon dan oknum TKSK, sehingga KPM terpaksa harus menerima komoditi yang sudah disiapkan oleh e-Warong.

“Sebenarnya keinginan KPM itu macam macam, maka supplier melalui e-Warong memfasilitasi komoditi yang diinginkan KPM. Namun yang terjadi sekarang kami cuma mendapatkan telur, beras, kacang hijau, dan indomie, “Jelasnya.

“Kami mau protes tidak berani, jangan kan begitu, setelah adanya pemberitaan dimedia, ada istri oknum salah satu perangkat pekon sudah menuduh, dan bicara yang macam-macam, bahkan TKSK melakukan pengancaman akan membekukan kartu KPM seolah-olah jika tidak patuh akan diblokir dan semua bantuan akan dibekukan, “Paparnya.

Ditempat terpisah Nuryanto selaku e-Warong Pekon Pagar Bukit membenarkan adanya keterlambatan dan tidak meratanya dalam pembagian sembako kepada KPM.

“Iya mas ada KPM yang masih belum menerima dengan penuh hingga bulan juni ini, terjadi demikian karena uang sudah kami gesek namun Supplier tidak mau jika ordernya cuma sedikit, dan uang ada pada kami yang pegang selaku e-Warong.

Mohon maaf jika kami salah, maklum manusia tempatnya kesalahan, dan jujur dengan nominal uang Rp. 200.000,- per KPM itu tidak sesuai dengan sembako yang diterima, artinya Supplier itu menuai keuntungan yang terlalu besar, sedangkan kami hanya diberi Rp. 3.000,- per KPM sebagai sewa gudang, “Kilahnya. (Yahman/Roso/Tubi/team).