M. Nairi; Saya Tidak Ikut Serta Dalam Memponis Mencuri dan Mendenda Orang Tua Siswa

NGARAS tirasnusantara.com – SMPN.7 Krui terkesan seakan-akan tidak ada unsur pimpinan dalam mengambil sebuah kebijakan terkait internal sekolah. Hal demikian disampaikan oleh M.NAIRI selaku Kepala Sekolah kepada team tirasnusantara.com (2/3).
“Saya sebagai Kepala Sekolah di SMPN.7 Krui tidak banyak mengetahui dalam segala urusan, terlebih menyangkut bidang kesiswaan, dalam setiap mengambil kebijakan saya tidak pernah dilibatkan.
Contohnya saja dalam penanganan kejadian beberapa hari yang lalu, yang diduga ada siswa terlibat kasus pencurian di Sekolah.
Mulai dari surat pemanggilan orang tua siswa yang bermasalah, ada oknum yang sudah mengambil alih seakan – akan Kepala Sekolah tidak ada dan tidak pernah difungsikan.
Buktinya surat panggilan resmi itu yang menggunakan Kop surat atas nama sekolah tidak disertai tanda tangan Kepsek dan stempel sekolah.
Kemudian setelah orang tua siswa dipanggil, ada terdengar keputusan pemberhentian kedua siswa tersebut, dan didenda dengan sejumlah uang, saya selaku Kepala Sekolah tidak mengetahui akan hal itu, semua keputusan diambil alih oleh ibuk HERMA WATI, S.Pd sebagai guru BK. “Tegas M.NAIRI.
Hal demikian berbeda dengan MN orang tua siswa saat ditemui (2/3) menjelaskan, kejadian yang menimpa anak kami itu bermula pada tanggal 22/2 lalu, anak kami dituduh mencuri di sekolah.
“Iya bang kejadian yang menimpa anak kami itu bermula pada tanggal 22/2 lalu, anak kami dituduh mencuri di sekolah. Lalu kami pihak orang tua mendapatkan surat panggilan untuk menghadap pada hari selasanya, dan pada hari selasa itu juga pihak sekolah dalam hal ini guru BK, yaitu ibuk HERMA WATI, S.Pd dan ditemani oleh tiga orang guru yang lainnya mengatakan bahwa anak kami tersebut telah melakukan pencurian, dan dinyatakan tidak boleh melanjutkan lagi belajar di SMPN.7 Krui.
Selain itu kami juga diancam akan dilanjutkan persoalannya keranah hukum apa bila kami tidak dengan segera menyelesaikan uang denda dengan batas waktu sampai hari Sabtu tanggal 29 Februari 2020, “Paparnya.
Kemudian pada hari Sabtu 29/2 kami selaku orang tua hadir kembali di sekolah memenuhi permintaan guru BK ibu HERMA WATI,S.Pd.
Dalam pertemuan tersebut, selain kami selaku orang tua, ada guru BK, hadir pula ketua komite bapak IBNU RUSIT, serta kepala sekolah bapak M.NAIRI.
Dalam pertemuan itu kami diwajibkan membayar uang sebesar RP. 5.700.000,-  (Lima Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah) sebagai denda karena anak kami divonis bersalah dengan tuduhan telah melakukan pencurian.
Sebagai masyarakat awam kami pun menyanggupi atas permintaan sekolah tersebut, karena apa bila denda ini tidak kami sepakati, maka anak kami tidak akan diberi rekomendasi untuk pindah ke sekolahan lain. “Tutupnya.
Sampai berita ini di terbitkan, pihak guru BK ibu HERMA WATI,S.Pd belum berhasil dikonfirmasi. (Mus/Edo/team)