Lupakan Janji Politik,Membuat Pemilih Apatis Terhadap Pesta Demokrasi

METRO tirasnusantara.com – Perilaku pejabat yang terpilih dari proses demokrasi baik pemilihan legislatif maupun pemilihan kepala daerah yang sebagian besar lupa dengan janji politiknya, membuat pemilih apatis terhadap pesta demokrasi. Tidak jarang mereka memilih menjadi golongan putih (golput) alias tidak datang ke TPS dan memilih. Hal ini ditandai dengan partisipasi pemilih yang trennya mengalami penurunan dan kisaran pemilih antara 60 hingga 80 persen saja dari total mata pilih.

Hal ini juga terjadi oleh Suratman yang merupakan pensiunan perwira menengah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Suratman yang sudah berusia sepuh, di atas 70 tahun ini, mengaku sudah lelah melihat perilaku politisi yang manis saat pencalonan dan lupa ketika terpilih. Hal ini yang membuatnya memilih untuk golput dalam setiap pesta demokrasi. Namun menjadi sejarah Suratman, ia kembali bersemangat untuk memilih calon Walikota Metro pada 9 Desember 2020 ini. Keputusan untuk memilih diambil, Selasa (1/12/2020) malam, setelah bertemu dan berdiskusi langsung dengan calon Walikota Metro nomor urut 2 Mufti Salim di kediamannya di Rumah Aspirasi.

“Saya ini sebenarnya sudah bulat tidak mau memilih. Sudah males melihat perilaku calon kepala daerah ini. Tapi memang saya belum pernah bertemu Mas Mufti secara langsung. Setelah saya mendengar, melihat, dan cara Mas Mufti memperlakukan kami orang-orang sepuh ini, saya yakinkan diri untuk memilih Mas Mufti,” ujar Suratman dengan suara lantang meski sudah usia sepuh itu.

Bahkan Suratman mengaku akan meminta langsung kepada keluarga besarnya untuk memilih paslon dengan jargon Metro Bahagia itu tanpa imbalan apa pun. “Boleh ditanya sama kawan-kawan saya, apa pernah saya terlibat aktif ngurusi politik. Udah capek melihat perilakunya. Tapi saya kira, ada harapan yang berbeda dari apa yang disampaikan Mas Mufti kepada kami semua di sini. Saya siap membantu memilih Mas Mufti, soal menang dan tidak itu sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Esa, yang jelas saya akan ikhtiar. Semoga terkabul dan bisa menjadi pemimpin di Kota Metro ini,” jelasnya.

Sementara itu, Mufti Salim mengaku terharu atas dukungan ini. Berdasarkan data, masih ada enam persen yang belum menentukan pilihan dan cenderung akan golput dalam pilkada Kota Metro ini. Menjadi tugas dan tanggungjawabnya untuk meyakinkan pemilih untuk datang ke TPS dan menitipkan harapannya untuk Kota Metro lima tahun ke depan.

“Apatis terhadap politik muncul akibat politisi yang tidak bisa amanah saat terpilih. Saya politisi, dan menjadi tugas saya dan kita semua teman-teman politisi lain untuk membuktikan bahwa janji politik bukanlah dijadikan komoditi pemenangan. Melainkan harus diwujudkan saat terpilih, sehingga masyarakat bergairah dan mau menaruhkan harapannya kepada calon pemimpinnya. Hal ini akan mengikis ketidakpercayaan publik dengan calon pemimpinnya. Sehingga setiap ada pesta demokrasi, dianggap menjadi hak sekaligus kewajiban warga untuk datang ke TPS dan menyalurkan suaranya. Insha Allah kita buktikan, kita mampu mewujudkan itu semua,” jelasnya.

Secara langsung, Mufti bahkan meminta Suratman untuk datang dan mengawal serta mengkritik saat dirinya terpilih menjadi Walikota Metro. “Jangan lupakan saya Pak Suratman, ingatkan saya, Insha Allah saya bukan menjadi bagian politisi yang lupa akan janji-janji kampanyenya,” harapnya.  (Eka)