KPR Kecam Tindakan Represif Dan Minta Bebaskan Pejuang Demokrasi Di Ternate

Ternate tirasnusantara.com,- KPR (Kesatuan Perjuangan Rakyat), mengecam Tindakan Represifitas terhadap Gerakan Rakyat Pro-demokrasi dan HAM serta Bebaskan tanpa syarat 10 kawan kami yang masih di tahan di POLRES Kota Ternate…!!!!

Pembungkaman demokrasi kembali terjadi. Hak menyampaikan pendapat lagi-lagi diberangkus. Brutalnya, pemberangusan demokrasi itu dilakukan didepan kampus Univ. Muhammadiyah Maluku Utara.

Gabungan aparat keamanan TNI-Polri merepresif kawan-kawan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) dan Komunitas Mahasiswa Papua (KMP) yang sedang melakukan mimbar aksi menuntut hak penentuan nasib sendiri untuk west Papua dan mendesak untuk dibebaskannya tahanan politik (TAPOL), pada Senin (2/12/19), didepan UM Malut, kampus B, pada siang tadi.

Kawan-kawan yang menggelar aksi dipukul, ditendang, diinjak, hingga ada yang hidungnya berdarah dan baju mereka sobek-sobek.

Ini kronologinya:

Sekitar jam 8 pagi, seluruh kawan-kawan FRI-WP dan KMP berkumpul didepan kampus B Univ. Muhammadiyah Malut, dan menunggu kawan-kawan yang lain. Sudah ada sekelompok intel yang berkeliaran.

Hingga sekitar pukul 10.30 WIT, aksi mulai digelar. Kawan-kawan sedang berorasi. Mereka membentangkan poster-poster tuntutan dan spanduk aksi.

Aksi berjalan sekitar 30 menit, pada sekitar pukul 11.00 WIT, tampak gabungan TNI-Polri beseragam lengkap datang bersama sejumlah intel berpakaian preman langsung merampas spanduk dan mulai merepresif kawan-kawan. Kawan2 dipukul, ditendang, diinjak, hingga ada yang hidungnya berdarah. Sebagian yang tidak sempat melarikan diri ditangkap dan diangkut ke Polres.

Menurut keterangan pihak Polres dari sejumlah rekan-rekan media, ada sekitar 10 orang kawan-kawan yang ditangkap. 5 diantaranya belum teridentifikasi nama-nama mereka. 5 orang yang sudah diketahui namanya yang sekarang berada di Polres diantaranya:
1. Arbi
2. Harun
3. Yudi
4. Aken
5. Iqra

Seluruh massa aksi berjumlah 53 orang, 10 orang ditangkap, dan 16 orang lainnya belum teridentifikasi keberadaan mereka.

Penangkapan yang disebutkan diatas adalah cerminan buruk demokrasi Indonesia. Represif dan kekerasan bahkan dilakukan secara tidak manusiawi oleh aparat gabungan TNI-Polri. Fatalnya, penangkapan itu terjadi di Univ. Muhammadiyah Malut, lingkungan kampus yang sering menjadi marwah bagi mahasiswa pro-demokrasi untuk menyatakan pendapat dan berserikat.

Lingkungan kampus adalah lingkungan akademis, bila TNI-Polri sampai merengsek merepresif mahasiswa dikampus, maka, kualitas demokrasi kita hancur dimakan rayap militerisme. Jika itu dibiarkan terus menerus, bisa dibayangkan, apapun yang bertentangan dengan kepentingan TNI-Polri, maka biarpun di kampus, mereka dengan seenaknya masuk membombardir situasi ( Red ).

Ternate, 2 Desember 2019

#AyoBersolisaritas
#IndonesiaKrisisDemokrasi
#BangunPartaiMassaRakyat