Ketua DPC FSBSI Kampar Bersama Ratusan Anggota, Akhirnya Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar – besaran di Kantor PT Padasa Enam Utama Kokar

Kampar, tirasnusantara.com – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Federasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia ( FSBSI) Kabupaten Kampar, Kormaida Siboro, S.H, bersama sebanyak lebih kurang 200 Karyawan Panen sebagai Pengurus Komisariat Federasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia ( PK FSBSI) PT. Padasa Enam Utama Kokar. Akhirnya menggelar aksi unjuk rasa / demo didepan pintu gerbang kantor besar perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Padasa Enam Utama Kebun Koto Kampar ( Kokar ), yang terletak di Wilayah Kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Rabu pagi, (8/7/2020).

 

Menurut Ketua DPC Federasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia Kabupaten Kampar, Kormaida Siboro, S.H, usai disela – sela aksi demo / unjuk rasa kepada awak media mengatakan, dalam aksi demo/ unjuk rasa tadi kami sebanyak 200 orang. Jadi yang 200 orang itu memang murni anggota kita yang sudah mengisi formulir dan sebagian sudah mempunyai KTA, tapi masih ada dalam proses. Mereka itu ada yang selaku pemanen, pemupuk, penyemprot, pemuat dan supir.

 

Kemudian yang menjadi keluhan mereka selama ini, memang nampak faktanya tadi. Pertama supir itu membawa mobil ditengah – tengah kami demo, mobil itu adalah mobil anak sekolah yang tidak layak. Anak – anak mereka itu dimasukkan ke suatu mobil Coll Diesel yang tidak layak, bahkan mobil itu tidak bayar pajak, sudah mati plat BM nya,” jelas Kormaida Siboro.

 

Selanjutnya dikatakan Ketua DPC FSBSI Kabupaten Kampar, itu tadi disaksikan sama kawan – kawan. Disitu katanya sekitar 80 orang Siswa/i didalam bustersebut, itu sangat menyedihkan sekali. Tetapi disana ada bus sekolah yang cantik pakai AC warnah putih, itu untuk anak sekolah karyawan yang jabatannya selaku staf.

 

Sementara keluhan untuk supir, kalau dia membawa mobil pakai celana pendek dan tidak memakai sepatu disuruh pulang. Padahal dia tidak dapat jatah sepatu dari pihak perusahaan. Ironisnya lagi, pekerja di sana seperti perbudakan. Bekerja 3 atau 4 orang, tapi yang dibayarkan upahnya hanya 1 orang. Itu perbudakan total, semesti ini tidak boleh dilakukan oleh PT. Padasa Enam Utama Kokar.

 

Seandainya terjadi kecelakaan terhadap keluarga pekerja yang membantu dilapangan itu, siapa yang bertanggungjawab. Ini juga nantinya akan menjadi PR kita, jadi tadi saya anjurkan supaya jangan mau lagi,” tegas Kormaida Siboro.

Lebih lanjut ditambahkan Ketua DPC FSBSI, tadi Manajementnya agak lama menjumpai kita. Makanya tadi sempat terjadi dorong – dorongan, tapi karena petunjuk dari Tuhan yang maha kuasa. Akhirnya tadi kita dipanggil masuk ke suatu ruangan melalui Kapolsek dan TNI diajak duduk, namun tidak ada kesepakatan atau titik temunya. Kata pak Hutagaol yang Manager itu, semuanya sudah disampaikan ke pusat. Keputusannya ada di kantor Direksi, dia bilang juga mobil bus sekolah itu sedang di renovasi.

Sementara itu, sesuai apa yang sudah saya sampaikan tadi. jika titik temunya tidak ada, kami tetap akan melanjutkan aksi demo ini sesuai yang sudah kami sepakati dengan Pengurus dan Korlapnya. Kalau kita langsung mundur begitu saja, rugi dong kami.

Pokoknya besok pagi kami tetap akan melanjutkan aksi unjuk rasa / demo dihari kedua, saya minta gaji anggota harus dibayarkan. Lalu dihari ketiga kami akan mogok kerja, tetap tujuan kami pihak perusahaan bisa berfikir lebih cepat, agar bisa dibuat Perjanjian Bersama ( PB),” ungkap Kormaida Siboro.

Terakhir Kormaida Siboro menegaskan, jika tidak ada juga titik temunya menjelang tanggal 10 Juli mendatang. Kami akan turun langsung ke Kantor DPRD Kabupaten Kampar untuk melakukan aksi demo / unjuk rasa, supaya pihak perusahaan PT. Padasa Enama Utama Kokar tersebut dipanggil. Jikaperlu kami akan melakukan aksi / demo unjuk rasa ini sampai ke DPRD Provinsi Riau maupun pusat,” ujarnya.

 

Hingga berita ini diturunkan, pihak Perusahaan PT. Padasa Enam Utama Kokar belum bisa dikonfirmasi oleh awak media. ( Rilis / Zul).