Jawadi; Instruksi Ka UPT dan PPL Anggota Poktan Tidak Dipublikasi

SUBAN tirasnusantara.com – Kelompok tani atau yang biasa disebut Poktan merupakan sebuah wadah berkumpulnya masyarakat tani pada satu desa atau pun disatu dusun.

Hal itu bertujuan untuk menghimpun dan memudahkan komunikasi antar satu anggota dengan anggota yang lainnya, agar serapan aspirasi lebih mudah tersalurkan.
Begitu juga adanya di Desa Suban Kecamatan Merbau Mataram Kabupaten Lampung Selatan, telah terbentuk sebuah Poktan yang bernama Kelompok Tani Sidorahayu II.
Kelompok Tani yang beranggotakan 27 orang masyarakat tani ini dipimpin oleh Jawadi sebagai ketua kelompok.
Beriring dengan jalannya waktu, Poktan ini berkembang sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk membantu kebutuhan petani dalam menggapai kesejahteraan anggota.
Setelah dianggap ideal dan dipercaya oleh pemerintah, poktan ini mendapatkan bantuan senilai Rp. 300.000.000,- (Tiga Ratus Juta Rupiah) berikut dengan 1 unit mesin Open Jagung.
Akan tetapi hal tersebut tidak serta merta membuat anggota kelompok merasa disejahterakan, demikian ungkap “RY” kepada team tirasnusantara.com Senin (30/12).
“Dengan adanya bantuan dana sebesar Rp. 300.000.000,- (Tiga Ratus Juta Rupiah) tersebut, kami selaku masyarakat tani tidak begitu mengetahui dengan detail, tiba-tiba bangunannya sudah dikerjakan oleh pihak ketiga. Dan itulah terlihat dengan mata apakah uang itu benar terserap disitu atau ada pihak lain yang diuntungkan, kami butuhkan transparan soal ini, “Pintanya.
Disambangi dikediamannya, Jawadi selaku ketua kelompok tani Sidorahayu II membenarkan bahwa kelompok yang dipimpinnya telah mendapatkan bantuan dari pemerintah sebesar Rp. 300.000.000,- (Tiga Ratus Juta Rupiah), dan berikut 1 unit mesin open jagung yang berkapasitas 10 ton.
“Iya benar kami telah mendapatkan bantuan dari pemerintah sebesar Rp. 300.000.000,- (Tiga Ratus Juta Rupiah), dan berikut 1 unit mesin open jagung yang berkapasitas 10 ton.
Terkait proses pembangunannya, Jawadi mengatakan, “Sebenarnya pembangunan itu dilaksanakan secara swakelola, akan tetapi arahan pihak dinas dengan alasan soal keahlian pembuatan bangunan, maka semua pekerjaan itu diserahkan dengan pihak ketiga, jadi kami terima meskipun banyak kekurangan, dan mesin ini baru Empat Kali Beroperasi langsung rusak, “Keluhnya.
“Jika ada yang bilang saya tidak transparan, itu yang ngerjain bukan saya tapi arahan dari dinas harus begitu.
Anggota kelompok sebanyak 27 orang itu, enggan disebutkan secara detail oleh Jawadi, soal siapa-siapa orangnya, “Saya juga tidak bisa mengatakan, siapa dan dimana anggota saya berada, ini saya lakukan sesuai dengan arahan Ka UPT dan PPL. “Tutupnya. (Riyan/Acef)