Desa Tanjung Baru Mewakili Desa Di Merbau Mataram Mengikuti Lomba Desa Tingkat Kabupaten

Lampung Selatan Tirasnusantara.com,-Desa Tanjung Baru Kecamatan Merbau Mataram berkesempatan mewakili 15 Desa yang ada di Kematan ini untuk mengikuti lomba Desa Tingkat Kebupaten Lampung Selatan.

Pelaksanaan penilaian lomba desa di Merbau Mataram dilaksanakan hari Kamis (20-02-2020)

Antusias masyarakat Desa tanjung Baru untuk hadir di balai desa merupakan bentuk dukungan besar masyarakat akan lomba desa tersebut. Tercatat 32 Rukun Tetangga ( RT) dan 12 Dusun lebih dari separo masyakatnya menghadiri acara tersebut.

Acara dimulai dari sambutan Heri Purnomo S.Km selaku Camat Merbau Matatam. Dalam sambutannya Heri Purnomo mengatakan bahwa tahun 2020 desa Tanjung Baru yang layak menjadi duta mewakili Merbau Mataram untuk mengikuti Lomba Desa. Heri Purnomo Berharal Desa Tanjung Baru mengikuti lomba desa tidak hanya menggugurkan kewajiban saja, tapi dirinya berharap Desa Tanjung Baru dapat keluar sebagai pemenang di tingkat Kabupaten.

Lomba desa yang dihadir semua unsur pemetintahan kecamatam Merbau Mataram, seluruh UPT, Dan Ramil Ketibung Kapolsek Merbau Mataram, seluruh kepala desa se Merbau Mataram, Pemdamping Kecamatan, pendamping Desa, kader Posyandu, Ibu- ibu PKK seluruh kepala Dusun dan RT Desa Tanjung Baru terlihat semakin bergemuruh ketika Mad Supi selaku kepala Desa Tanjung Baru memberi sambutan, karna Sesekali diselingi oleh Mad Supi dengan candaan dan pembacaan pantun.

Dalam sambutannya Mad Supi memaparkan awal berdirinya desa Tanjung Baru, urutan kepala Desa Tanjung Baru serta pemaparan kegiatan pembangunan yang sudah dilakukannya bersama pemerintahan desa sejak tahun 2015.

Delain itu Mad Supi juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia lomba desa yang telah bekerja keras sehingga pelaksanaan lomba desa berjalan dengan baik.

Kepada seluruh kepala dusun, RT dan seluruh masyarakat Mad Supi pun mengucapkan terima kasih dengan dukungan dan kehadiran mereka di balai desa.

Sementara ketua Panitia penai lomba desa Nasron S.Sos yang mewakili Plt Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto yang berhalangan hadir membacakan sambutan tertulis Nanang Ermanto.

Dalam sambutan tertukis yang dibacakan Nasron S.Sos acuan lomba Desa mengacu pada Permendagri No 81/2015 tentang Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan bukan sekedar mengatur bagaimana hajatan nasional Lomba Desa dilaksanakan tiap tahun, tapi lebih dari pada itu.

Yaitu memotivasi desa semakin cerdas dalam menata kelembagaannya secara lebih modern, sehingga segala kemajuan pembangunan desa dan kelurahan dapat dengan mudah dievaluasi dan terukur.

Dengan semakin tertibnya tata kelola pemerintahan desa yang didukung oleh sistem informasi desa, bagi pemerintah Pusat pun juga menjadi semakin mudah dalam memahami persoalan-persoalan desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.

“Terbitnya Permendagri 81/2015 tentang Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan telah menggantikan Permendagri No 13/2007. Paradigmanya banyak berubah, dari paradigma yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, kini mengarah pada aspek evaluasi, sehingga tertib administratif benar-benar menjadi perhatian utama. Desa dinyatakan bisa ikut lomba hanya desa yang sudah masuk dalam kualifikasi berkembang dan cepat berkembang.

Desa yang belum berkembang, tidak bisa ikut dalam perlombaan. Syarat harus punya RPJM Desa dan Profile Desa. Kenapa paradigma yang diusung oleh permendagri ini berubah secara mendasar, karena kita tahu bahwa selama ini kita sulit mengukur tingkat perkembangan desa. Mengapa ? Karena belum ada data yang dapat menggambarkan untuk apa dana pembangunan yang masuk ke desa itu dipakai”, paparnya.

Hal yang tak kalah menariknya dari rangkaian kegiatan lomba desa yang diregionalisasikan ke dalam 4 wilayah, adalah tumbuhnya semangat gotong royong, semangat kekeluargaan dan kesetaraan sebagai rakyat Indonesia semakin kuat dirasakan.

Seluruh elemen yang ada di desa diharapkan mengetahui kegunaan anggaran dana desa. Diharapkan dana-dana yang masuk ke desa bisa memompa pembangunannya, pemerintahannya dan kemasyarakatannya dan terukur secara nyata dengan data-data yang ada.

Tingkat kemajuannya bisa kelihatan. Dari 3 aspek pemerintahna, pembangunan dan pemberdayaan itu, akan tampak dan terukur aspek mana yang tertinggal.

Nasron menyimpulkan bahwa tampak sekali bahwa lomba desa bisa menjadi sarana untuk merekatkan hubungan antara desa, kecamatan, pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat.

Adanya kekurangan bisa saling belajar dan tidak selalu didominasi lagi oleh wilayah yang sudah maju seperti di Jawa dan Sumatera. Hal ini akan menjadi pembelajaran bagaimana membangun desa dengan berbagai keragaman budaya, wilayah dan sebagainya.( Amin )